Pages

Stres dalam Kesehatan Mental

Dunia yang kita jalani sekarang ini semakin lama semakin kompleks. Manusia hidup selalu dipenuhi oleh kebutuhan dan keinginan. Sering kali kebutuhan dan keinginan tersebut tidak dapat dipenuhi dengan segera dan sesuai dengan keinginan. Banyak faktor yang menghambat kebutuhan dan keinginan kita. Selain itu, manusia juga sering dihadapkan dengan dua pilihan atau bahkan lebih yang datang pada saat yang bersamaan. 

Hal-hal seperti di atas dapat memicu individu mengalami stress. Orang selalu mengalami stress dalam hidupnya. Baik itu stress berat ataupun stress yang ringan. Stress yang terjadi pada individu dapat memberikan dampak yang buruk, atau juga dapat mengubah individu tersebut menjadi lebih baik tergantung bagaimana individu tersebut menanggapi stress yang dirasakan.


A. Arti Penting Stres
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menggunakan kata stres tanpa memahami makna dari kata tersebut. Biasanya orang menggunakan kata stres untuk hal yang bernilai negatif. Tetapi sebenarnya pada tingkat tertentu kita memerlukan stres dalam kehidupan kita. Stres yang optimal akan membuat motivasi kita menjadi tinggi, orang menjadi lebih bergairah akan suatu hal, daya tangkap dan persepsi menjadi tajam, menjadi lebih tenang ,dan lain-lain.

      Menurut beberapa ahli, stress dapat di definisikan ke dalam banyak pengertian sebagai berikut 
  • “Stress adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan)” (Dadang Hawari, 2001).
  • “Stress adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam; yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang.” (Soeharto Heerdjan, 1987).
  • Secara umum, yang dimaksud dengan stress adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dan lain-lain.
  • “Stress adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu lah stress merupakan sesuatu yang mengganggu keseimbangan kita.” (Maramis, 1999).
  • Menurut Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brecht (2000), bahwa yang dimaksud stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu di dalam lingkungan tersebut.
 Stres berbeda dengan stressor. Stressor adalah sesuatu yang menyebabkan stres. Stres itu sendiri adalah akibat dari interaksi timbal balik antara rangsangan lingkungan dan respons individu.
             
Cox (Gibson, dkk., 1990) mengkategorikan akibat stres menjadi lima kategori, yaitu:
  • Akibat subjektif, yaitu akibat yang dirasakan secara pribadi, meliputi kegelisahan, agresi, kelesuan, kebosanan, depresi, kelelahan, kekecewaan, kehilangan kesabaran, harga diri rendah, perasaan terpencil, dll.
  • Akibat periaku, yaitu akibat yang mudah dilihat karena berbentuk perilaku-perilaku tertentu, meliputi mudah terkena kecelakaan, penyalahgunaan obat, peledakan emosi, berperilaku impulsif, tertawa gelisah, dll.
  • Akibat kognitif, yaitu akibat yang mempengaruhi proses berpikir, meliputi tidak mampu mengambil keputusan yang sehat, kurang dapat berkonsentrasi, tidak mampu memusatkan perhataian dalam jangka waktu yang lama, sangat peka terhadap kecaman dan mengalami rintangan mantal, dll.
  • Akibat fisiologis, yaitu akibat-akibat yang berhubungan dengan fungsi atau kerja alat-alat tubuh, yaitu tingkat gula darah meningkat, denyut jantung/tekanan darah naik, mulut menjadi kering, berkeringat, pupil mata membesar, sebentar-sebentar merasa panas dan dingin.
  • Akibat keorganisasian, yaitu akibat yang tampak dalam tempat kerja, meliputi absen, produktivitas rendah, mengasingkan diri dari taman sekerja, ketidakpuasan kerja, menurunnya keterikatan dan loyalitas terhadap organisasi. 

Terjadinya stres tergantung pada stressor dan tanggapan seseorang terhadap stressor tersebut. Faktor-faktor individual dan sosial yang menjadi penyebab stres antara lain seperti di bawah ini (Gibson, dkk., 1990):
  • Lingkungan fisik, seperti suhu terlalu panas atau dingin, perubahan cuaca, cahaya yang terlalu terang atau gelap, suara yang terlalu bising, atau polusi. Kepadatan juga dapat menjadi penyebab stres. Penduduk yang tinggal di kampung yang kumuh dan padat cenderung memiliki tingkat stres lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di daerah yang renggang.
  • Stressor yang berasal dari individu sendiri. Konflik yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab yang terlalu berat akan membuat seserang menjadi tegang.
  • Stressor yang berasal dari kelompok. Seperti konflik yang terjadi dalam hubungan dengan teman, hubungan dengan atasan, atau hubungan dengan bawahan.
  • Stressor yang bersumber dari organisasi. Seperti kebijakan yang diambil alih oleh perusahaan, struktur organisasi yang tidak sesuai, dan partisipasi para anggota yang rendah. 
Selain itu ada beberapa tanggapan yang mengelompokan faktor-faktor yang mempengaruhi stress sebagai berikut:
  1. Faktor biologis >> Herediter, konstitusi tubuh, kondisi fisik, neurofisiologik, dan neurohormonal.
  2. Faktor psikoedukatif/sosiocultural >> Perkembangan kepribadian, pengalaman, dan kondisi lain yang mempengaruhi.

Sindrom Adaptasi Umum (General Adaptation Syndrome)

“Stres adalah suatu abstraksi. Orang tidak adapat melihat pembangkit stress (stressor). Yang dapat dilihat ialah akibat dari pembangkit stress (stressor).” Menurut Hans Selye, guru besar emeritus (purnawirawan) dari Universitas Montreal dan “penemu” stress. 

Teori general adaptation syndrome ini dikenalkan oleh Hans Selye. Selye berpendapat bahwa tubuh bereaksi secara sama ketika menghadapi stres, tidak peduli apapun jenis stresornya. Jadi dengan kata lain reaksi pertahanan fisiologis yang dilakukan oleh tubuh ketika menghadapi stressor merupakan pola-pola reaksi yang universal/sama pada setiap orang. Reaksi ini bertujuan untuk melindungi organisme dan menjaga integritasnya suapay organisme tersebut tetap bertahan (survive).

Pertahanan fisiologis yang berlangsung lama akan mengakibatkan terbentuknya “penyakit adaptasi”, yaitu penyakit/gangguan yang tejadi akibat dari adaptasi yang kacau yang dilakukan terhadap stres yang berkepanjagan.
Reaksi tubuh terhadap stres bisa dibagi menjadi tiga fase menurut Selye, yaitu:
  • Fase alarm, pada fase ini tubuh mengalami perubahan-perubahan fisiologis sehingga resistensinya menurun dibawah tingkat normal. Individu merasakan gejala-gejala seperti degup jantung makin cepat, napas yang memburu, keringat dingin, dan sebagainya. Pada fase ini individu bisa mengalami kematian, karena memang tingkat resistensinya sedang menurun.
  • Fase resistensi, pada fase ini resistensi tubuh akan mengalami peningkatan di atas tingkat normal dengan tujuan akan melakukan adaptasi terhadap stressor tersebut sehingga individu bisa berfngsi dengan optimal. Orang merasa normal kembali walaupun sebenarnya stressor-nya masih ada, namun energi yang dikeluarkan lebih tinggi dari biasanya.
  • Fase kelelahan, bila stres terus berlanjut dan menuntut tubuh untuk terus berdaptasi dengan stressor, maka pada satu titik tertentu energi yang digunakan tubuh untuk penyesuaian akan mulai habis. Pada fase ini resistensi tubuh mau tidak mau akan menurun pada tigkat di bawah normal kembali. Jika gangguan semakin parah, individu ang bersangkutan akan mengalami kematian. 
Stressor tidak hanya berupa suatu situasi atau sesuatu yang nyata/riil. Stressor juga terjadi secara subjektif berupa pikiran dan imajinasi. Misalnya, karena lupa mengerjakan tugas semalam dan takut dimarahi guru, seseorang dapat merasa stres meskipun kejadian nyatanya belum ada.


B. Tipe-tipe Stres Psikologis  
Menurut Maramis (1990) ada empat tipe stress psikologis, yaitu:

Frustasi
Frustasi muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu hal/tujuan. Misalnya seseorang mengalami kegagalan dalam pekerjaan yang mengakibatkan orang tersebut harus turun jabatan. Orang yang memiliki tujuan tersebut mendapat beberapa rintangan/hambatan yang tidak mampu ia lalui sehingga ia mengalami kegagalan atau frustasi.
Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, krisis ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain.

Konflik
Konflik ditimbulkan karena ketidakmampuan memilih dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, aau tujuan. Saat seseorang dihadapkan dalam situasi yang berat untuk dipilih, orang tersebut akan mengalami konflik dalam dirinya. Bentuk konflik digolongkan menjadi tiga bagian, approach-approach conflict, approach-avoidant conflict, avoidant-avoidant conflict. 

Tekanan
Tekanan timbul dari tuntutan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi sehingga menimbulkan tekanan dalam diri seseorang. Tekanan juga berasal dari luar diri individu, misalnya orang tua yang menuntut anaknya untuk masuk ke dalam jurusan yang tidak diminati oleh anaknya, anak yang menuntut orang tua untuk dibelikan semua kemauannya, dan lain-lain. 

Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu kondisi ketika individu merasakan kekhawatiran/kegelisahan, ketegangan, dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk. Misalnya seorang anak yang sering dimarahi ibunya, anak tersebut akan merasakan kecemasan yang cukup tinggi jika ia melakukan hal yang akan membuat ibunya marah padahal ibu si anak tersebut belum tentu marah padanya.


C. Symptom-Reducing Responses terhadap stress 
Kehidupan akan terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Individu yang mengalami stress tidak akan terus menerus merenungi kegagalan yang ia rasakan. Untuk itu setiap individu memiliki mekanisme pertahanan diri masing-masing dengan keunikannya masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala stress yang ada. Berikut mekanisme pertahana diri (defense mechanism) yang biasa digunakan individu untuk dijadiakan strategi saat menghadapi stress:

1.      1. Indentifikasi
Identifikasi adalah suatu cara yang digunakan individu untuk menghadapi orang lain dngan membuatnya menjadi kepribadiannya, ia ingin serupa dan bersifat sama seperti orang lain tersebut. Misalnya seorang mahasiswa yang menganggap dosen pembimbingnya memiiliki kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang ramah, dan sebagainya. Maka mahasiswa tersebut akan meniru dan berperilaku seperti dosennya.

2. Kompensasi
Seorang individu tidak memperoleh kepuasan di bidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasan di bidang lain. Misalnya Andi memiliki nilai yang buruk dalam bidang Matematika, namun prestasi olah raga yang ia miliki sangatlah memuaskan.

3.      3. Overcompensation/ reaction formation
Perilaku seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang anak yang ditegur gurunya karena mengobrol saat upacara, bereaksi dengan menjadi sangat tertib saat melaksanakan upacara dan menghiraukan ajakan teman untuk mengobrol.

4.      4. Sublimasi
Sublimasi adalah suatu mekanisme sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan suatu konflik dengan pengembangan kegiatan yang konstruktif. Penggantian objek dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat dan derajatnya lebih tinggi. Misalnya sifat agresifitas yang disalurkan menjadi petinju atau tukang potong hewan.

5.      5. Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek di luar diri atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain. Mutu proyeksi lebih rendah daripada rasionalisasi. Contohnya seorang anak tidak menyukai temannya, namun ia berkata temannyalah yang tidak menyukainya. 

6.      6. Introyeksi
Introyeksi adalah memasukan dalam pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya seoarang wanita mencintai seorang pria, lalu ia memasukan pribadi pria tersebut ke dalam pribadinya.

7.      7. Reaksi konversi
Secara singkat mengalihkan konflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik. Misalkan belum belajar saat menjelang bel masuk ujian, seorang anak wajahnya menjadi pucat dan berkeringat.

8.      8. Represi
Represi adalah konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya seorang karyawan yang dengan sengaja melupakan kejadian saat ia dimarahi oleh bosnya tadi siang.

9.      9. Supresi
Supresi yaitu menekan konflik, impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya. Misalnya dengan berkata “Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi.”

1    10.  Denial
Denial adalah mekanisme perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya seorang penderita diabetes memakan semua makanan yang menjadi pantangannya.
      
      11.  Regresi
Regresi adalah mekanisme perilaku seseorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari pergaulan dengan lingkunganya. Misalnya artis yang sedang digosipkan berselingkuh, karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
      
      12.  Fantasi
Fantasi adalah apabila seseorang menghadapi konflik-frustasi, ia menarik diri dengan berkhayal/berfntasi, misalnya dengan lamunan. Contoh seorang pria yang tidak memiliki keberanian untuk menyatakan rasa cintanya melamunkan berbagai fantasi dirinya dengan orang yang ia cintai.
      
      13.  Negativisme
Adalah perilaku seseorang yang selalu bertentangan/menentang otoritas orang lain dengan perilaku tidak terpuji. Misalkan seorang anak yang menolak perintah gurunya dengan bolos sekolah. 

14. Sikap mengkritik orang lain
Bentuk pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. Perilaku ini termasuk perilaku agresif yang aktif (terbuka). Misalkan seorang karyawan yang berusaha menjatuhkan karyawan lain dengan adu argument saat rapat berlangsung.

Selain mekanisme pertahanan diri yang digunakan untuk mengatasi serta mengurangi stress yang timbul karena adanya stressor, individu dapat juga menggunakan berbagai strategi coping yang spontan untuk mengatasi stress “minor”. 

Coping strategy merupakan koping yang digunakan individu secara sadar dan terarah dalam mengatasi sakit atau stressor yang dihadapinya. Metode koping bisa diperoleh dari proses belajar dan beberapa relaksasi. Jika individu menggunaan strategi koping yang efektif dan cocok dengan stressor yang dihadapinya, stressor tersebut tidak akan menimbulkan sakit (disease), tetapi stressor tersebut akan menjadi suatu stimulan yang memberikan wellness dan prestasi.

Untuk mengatasi stres “minor”, individu dapat melakukan berbagai macam koping spontan dan sederhana. Tidak perlu memerlukan banyak biaya dan waktu yang dikorbankan. Stres “minor” merupakan stres yang tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap individu yang merasakannya. Misalnya seperti kecelakaan, mendapat nilai yang buruk di rapot, telat datang ke kantor, dan lain sebagainya.

Biasanya jika tingkat stres yang dirasakan individu cukup parah, peranan obat/medikasi sangat membantu. Namun terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan di saat stres juga tidak baik pengaruhnya bagi kesehatan fisik.

Ada beberapa teknik terapi yang dicobakan untuk mengatasi stres. Biofeedbacknadalah suatu teknik untuk mengetahui bagian tubuh mana yang terkena stres dan kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang cukup rumit, gunanya sebagai feedback atau umpan balik terhadap bagian tubuh tertentu. Biofeedback kurang efektif untuk digunakan secara praktis.

Untuk mengatasi stres minor, individu dapat mengatur istirahat yang cukup dan olah raga yang teratur. Karena cara hidup yang teratur dapat membuat orang jarang mengalami stres.

Relaksasi dan meditasi juga salah satu cara untuk mengurang stres “minor”. Dengan merasa rileks, seseorang dapat lebih tajam untuk mengetahui bagaian tubuh mana yang mengalami stres lalu mengembalikan kondisi tubuh ke kondisi semula. Selain iu meditasi juga memiliki keuntungan lain seperti konsentrasi menjadi lebih tajam dan pikira menjadi lebih tenang.

Namun dari semua strategi yang ada, menguah sikap hidup merupakan strategi yang paling ampuh untuk mengurangi stres yang dirasakan. Dengan mengubah pikiran negatif menjadi positif orang bisa merasa lebih baik dalam menghadapi stressornya. Orang juga merasa ikhlas dalam menjalani setiap masalah yang akan terus ada dalam hidupnya.

Strategi koping yang berhasil mengatasi stres harus memiliki empat komponen pokok:
  1. Peningkatan kesadaran terhadap masalah: mengetahui dan memahami masalah serta teori yang melatarbelakangi situasi yang tengah berlangsung.
  2. Pengolahan informasi: suatu pendekatan dengan cara mengalihkan persepsi sehingga ancaman yang ada akan diredam. komponen ini meliputi pengumulan informasi dan pengkajian sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah.
  3. Pengubahan perilaku: suatu tindakan yang dipilih secara sadar dan bersifat positif, yang dapat meringankan, meminimalkan, atau menghilangkan stressor.
  4. Resolusi damai: suatu perasaan bahwa situasi telah berhasil di atasi.

DAFTAR PUSTAKA
Sunaryo. 2002. Psikologi untuk keperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Siswanto. 2007. Kesehatan mental; konsep, cakupan, dan perkembangannya. Yogyakarta: C.V Andi Offset
Halgin, R.P., Whitbourne, S.K. 2010. Psikologi abnormal. Jakarta: Salemba Humanika
Munandar, A.S. 2001. Psikologi industry dan organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press)
Nursalam, Kurniawati, N.D. 2007. Asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba Medika
Anonim. 1999. Manajemen stres. Jakarta: Buku Kedokteran EGC